“Psikologi Pengemudi”

Dialog Interaktif “Psikologi Pengemudi”

Sudah sekitar 5 tahun, Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun bekerja sama dengan Dinas Perhubungan Kota Madiun. Untuk tahun ini ada 2 kegiatan yang dilakukan dalam rangka kerja sama ini pada tanggal 24-26 April 2018. Pada kegiatan pertama adalah partisipasi Fakultas Psikologi dalam Pelaksanaan Pemilihan Abdi Yasa Teladan Kota Madiun yang diselenggarakan oleh UPT Angkutan Darat.

Pada acara yang bertempat di Gedung Dinas Perhubungan Kota Madiun. Jl. Hayam Wuruk No 62, bertindak sebagai narasumber dari Fakultas Psikologi ialah Dekan Fakultas Psikologi, David Ary Wicaksono, M. Si. Beliau menyampaikan materi Psikologi Pengemudi yang dihadiri oleh 35 orang peserta, terdiri dari pengemudi Angkutan Umum, Angkutan Kota, Angkutan Barang, Angkutan Jasa Antar Jemput, AKAP, AKDP,  dan Angkutan Pariwisata. Acara ini dihadiri juga oleh Kepala Dinas Perhubungan Kota Madiun, Dinkes dan KB kota Madiun, UPT LLAJ Kota Madiun, Satlantas Polres Madiun Kota, Kementrian Agama Kota Madiun, serta PT Jasa Raharja Madiun yang juga bertindak sebagai narasumber.

Psikologi dalam konteks Mengemudi adalah perilaku yang dilakukan pengemudi kendaraan saat mengemudikan angkutan umum. Dalam pemaparannya narasumber menjelaskan bahwa dari perspektif Psikologi, terdapat 3 aspek psiklogis yaitu Kognitif (pikiran), Afeksi (perasaaan) dan Psikomotor (perilaku). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku saat mengemudi yaitu aggressive driving, emosi, kondisi fisik dan psikologis.

Agresifitas dalam mengemudi dikarenakan pengemudi dengan sengaja meningkatkan resiko dalam berkendara misalnya mengendarai kendaraan secara zig zag, menyalip tiba-tiba sehingga penumpang merasakan ketidaknyamanan.

Sementara emosi dalam berkendara disebabkan oleh faktor individu dan lingkungan. Dari individu misalnya kurang bisa mengendalikan dirinya sendiri, tidak terima saat disalip angkutan lain. Dari Lingkungan misalnya cuaca panas dan macet, hal ini dapat menjadikan pengemudi menjadi lebih mudah terpancing emosi sehingga di saat mengendarai kendaraan menjadi kurang terkendali dan kurang memperhatikan keselamatan penumpang.

Kondisi Fisik yang tidak fit juga bisa menjadi penyebabnya, misalnya ketika berkendara dalam kondisi sakit, konsentrasi akan tidak fokus dan tidak bisa maksimal dalam menguasai kemudi. Sedangkan dari aspek kondisi psikologis mempengaruhi perilaku saat berkendara, misalnya saat ada permasalahan dengan orang lain atau keluarga, pikiran kita akan terbagi dan merasa beban dalam dirinya menjadi berat, misalnya dalam kondisi melamun bisa menyebabkan kecelakaan.

Sebagai tindakan solutif untuk meminimalkan pengaruh negatif 3 faktor di atas adalah dengan cara mengontrol perilaku saat berkendara melalui modifikasi perilaku misalnya dengan melakukan istirahat yang cukup (adapun pengemudi angkutan mempunyai batasan-batasan ideal untuk beristirahat, perjalanan 8 jam tanpa henti butuh istirahat 1jam, perjalanan 4jam tanpa henti membutuhkan istirahat ½ jam), mengkonsumsi makanan yang tidak berlebih supaya tidak mengantuk saat berkendara, serta tidak minum minuman beralkohol dalam berkendara.

Sebagai tambahan berkaitan dengan Komunikasi dan Ekspresi pengemudi juga memberi kontribusi yang besar terhadap kepuasan penumpang, misalnya driver tidak ramah, dalam kabin pengemudi tidak ada komunikasi yang hangat serta ekspresi yang tidak enak dilihat membuat penumpang merasa tidak nyaman dan menyebabkan penumpang menjadi kecewa dan tidak akan berlangganan naik angkutan umum tersebut, dalam hal ini kepuasan pelanggan adalah yang utama. (David)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.